Makanan darurat yang paling sering bermasalah bukan karena pilihan menunya, tetapi karena tidak cocok dengan kondisi lapangan saat bencana.
Banyak orang menyiapkan makanan seperti sedang belanja bulanan. Hasilnya, stok memang banyak, tetapi sulit dipakai saat listrik padam, air bersih terbatas, dan orang harus bergerak cepat. Pada kondisi seperti ini, sistem sederhana lebih berguna daripada tas yang berat.
Baca juga :
6 Contoh Makanan Darurat Terbaik yang Bisa Anda Stok untuk Jaga-jaga
Di Lanana, kami memantau strategi rantai pasok dan melihat bahwa hambatan terbesar saat bencana sering muncul ketika infrastruktur dapur umum terganggu. Dalam situasi seperti itu, emergency food yang praktis menjadi penting. Lanana dirancang untuk kondisi darurat: memakai teknologi retort modern, sehingga dapat disimpan hingga 12 bulan di suhu ruang tanpa bahan pengawet. Dengan kemasan pouch yang ringan namun tangguh, kami melihat distribusi bisa berjalan lebih cepat tanpa perlu membawa peralatan memasak yang berat. Pengalaman ini membuat kami paham bahwa kesalahan persiapan sering terjadi pada hal-hal kecil yang terasa sepele, tetapi efeknya besar saat krisis.
Kesalahan utama yang sering terjadi
1) Membawa makanan yang butuh banyak air
Air adalah sumber yang paling cepat jadi masalah. Saat bencana, air bersih bisa terputus. Bahkan jika ada air, belum tentu aman diminum.
Kesalahan yang sering terjadi adalah membawa makanan yang “kelihatannya praktis” tetapi butuh banyak air untuk dimasak atau diseduh berkali-kali. Ini membuat stok makanan tidak bisa dipakai maksimal.
Prinsip sederhana: untuk tas siaga, pilih makanan yang bisa dimakan langsung, atau butuh langkah minimal. Jika ada makanan yang perlu air panas, pastikan itu realistis dilakukan.
2) Membawa makanan yang butuh kompor atau alat masak
Listrik bisa padam. Gas bisa habis. Kompor tidak selalu aman dipakai di tempat pengungsian yang padat.
Kesalahan ini sering muncul saat orang menyiapkan makanan instan yang tetap butuh proses masak. Dalam factsheet kami, disebutkan bahwa akses terhadap air bersih dan bahan bakar seringkali terputus saat darurat. Karena itu, makanan yang tidak bergantung pada kompor lebih mudah dipakai.
3) Tidak membawa pembuka kaleng
Makanan kaleng memang awet. Tetapi tanpa pembuka kaleng manual, stok itu bisa menjadi beban.
Kesalahan ini sering terjadi karena orang mengira akan selalu ada pisau, gunting, atau alat lain. Dalam situasi darurat, alat sederhana seperti pembuka kaleng manual bisa menjadi penentu apakah makanan bisa dimakan atau tidak.
4) Tidak rotasi stok sampai kedaluwarsa
Rotasi stok berarti menggunakan stok yang lebih dulu dibeli, lalu mengganti dengan yang baru. Ini kebiasaan kecil yang sering dilupakan.
Kesalahan umum adalah menaruh tas siaga di lemari, lalu baru dibuka setahun kemudian. Saat dibuka, sebagian makanan sudah mendekati kedaluwarsa atau sudah tidak layak.
Agar mudah, buat jadwal cek rutin. Misalnya setiap 3 bulan atau 6 bulan. Tidak perlu lama. Yang penting konsisten.
Kesalahan lain yang sering terlewat
5) Mengandalkan satu jenis makanan saja
Satu jenis makanan terlihat mudah. Tetapi jika rasanya tidak cocok, orang bisa malas makan. Ini sering terjadi pada anak-anak dan orang yang sedang stres.
Idealnya ada variasi. Tidak harus banyak, tetapi cukup supaya Anda tetap mau makan dan tenaga tidak drop.
6) Porsi tidak dibagi per hari
Saat panik, orang cenderung makan tidak teratur. Ada yang terlalu banyak di hari pertama, lalu kekurangan di hari berikutnya.
Solusinya sederhana: buat paket Day 1, Day 2, Day 3. Ini membantu Anda mengatur ritme makan tanpa menghitung ulang.
7) Memilih makanan yang terlalu asin atau membuat cepat haus
Makanan asin memang enak dan tahan lama. Tetapi jika Anda makan terlalu asin saat air terbatas, rasa haus bisa meningkat.
Ini sering jadi masalah di Indonesia saat bencana terjadi di cuaca panas atau saat distribusi air belum stabil.
8) Lupa alat kecil yang membuat makan jadi mungkin
Selain pembuka kaleng, ada alat kecil lain yang sering terlupakan. Misalnya sendok, tisu, atau kantong sampah kecil.
Tanpa alat kecil ini, makan jadi merepotkan dan kebersihan menurun. Padahal kebersihan penting untuk mencegah masalah kesehatan di pengungsian.
9) Menyimpan makanan di tempat yang salah
Makanan darurat perlu disimpan di tempat yang mudah diambil saat terburu-buru. Banyak orang menyimpannya terlalu jauh, terlalu tinggi, atau tertumpuk.
Kesalahan lain adalah menyimpan di tempat panas dan lembap. Ini mempercepat kerusakan kemasan dan menurunkan kualitas makanan.
10) Tidak menyesuaikan untuk kebutuhan khusus
Beberapa anggota keluarga punya kebutuhan berbeda. Anak kecil, lansia, atau orang yang sedang sakit biasanya tidak bisa makan sembarang.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menyiapkan satu menu “untuk semua orang”, lalu saat darurat ada anggota keluarga yang tidak bisa makan dengan baik.
Poin praktis untuk memperbaiki persiapan
Jika ingin memperbaiki isi tas siaga dan stok makanan darurat, gunakan daftar cek sederhana:
- Ada makanan siap santap yang tidak butuh kompor
- Jumlah air cukup dan disimpan dengan aman
- Ada alat kecil: pembuka kaleng manual, sendok
- Stok dibagi per hari: Day 1, Day 2, Day 3
- Ada variasi rasa yang familiar
- Ada jadwal rotasi dan cek kedaluwarsa
Pengalaman Lanana: kesalahan paling mahal adalah yang terlihat kecil
Di Lanana, kami melihat situasi darurat sering memaksa orang bergerak tanpa persiapan panjang. Saat dapur umum tidak siap, akses air bersih terganggu, dan bahan bakar terputus, bantuan pangan perlu cepat dan praktis. Itulah sebabnya kami menilai kemasan pouch yang ringan namun tangguh punya peran besar dalam distribusi. Dalam factsheet kami juga dijelaskan bahwa beberapa varian seperti Nasi Goreng dapat langsung dikonsumsi, sementara varian lainnya cukup diseduh dengan air panas selama 10 menit. Fleksibilitas seperti ini membantu saat alat terbatas.
Kami juga belajar bahwa rotasi stok dan stabilitas penyimpanan adalah kunci. Dengan masa simpan hingga 12 bulan di suhu ruang, produk yang dibuat dengan teknologi retort modern bisa disiapkan lebih awal tanpa takut cepat rusak. Tetapi tetap, tas siaga harus dicek berkala. Kesalahan kecil seperti lupa alat, salah pilih menu yang butuh banyak air, atau menaruh stok di tempat yang salah, sering membuat rencana yang bagus tidak bisa dipakai saat paling dibutuhkan.
Penutup
Menyiapkan makanan darurat bukan tentang punya stok sebanyak mungkin. Ini tentang punya stok yang bisa dipakai saat kondisi tidak ideal.
Mulailah dari empat hal: kurangi ketergantungan pada air, kurangi ketergantungan pada kompor, siapkan alat kecil seperti pembuka kaleng, dan rotasi stok secara rutin. Setelah itu, perbaiki hal-hal yang sering terlewat seperti pembagian porsi per hari dan variasi rasa.
Di Lanana, kami percaya persiapan yang sederhana dan realistis akan jauh lebih menolong saat situasi sulit. Ketika detail kecil sudah beres, Anda dan keluarga bisa fokus pada hal yang lebih penting: keselamatan dan pemulihan.
